Dalam melakukan usaha, tentu saja pasti ada tujuan yang ingin dicapai. Dan kita akan berusaha maksimal mencoba berbagai cara agar target tujuan kita itu tercapai. Jika masih belum, maka kita akan melakukan koreksi dalam usaha kita dan memperbaikinya. Jika hal itu kita lakukan, ini adalah salah satu hal yang sangat bagus. Namun pada kenyataannya kita harus memutuskan hasil dari yang kita capai tersebut dengan usaha kita. Sehingga kita tidak menjadi takabur ketika berhasil, dan juga tidak merasa terpuruk ketika kita gagal.

Lalu apa hubungan usaha dan hasil ? Hubungan usaha dan hasil adalah seperti gula dan manis, atau garam dan asin. Jika selama ini kita beranggapan bahwa garam itu penyebab rasa asin, maka dalam pandemi covid ini kita sudah diberikan pelajaran bahwa tidak selamanya garam itu berasa asin. Karena banyak mereka yang sakit covid tidak bisa merasakan rasa asin dari garam itu sendiri, bisa dibaca disini. Jadi jika garam itu penyebab asin, maka tidak ada ceritanya orang yang sakit tidak bisa merasakan asin jika kita memakan garam. Jadi pada hakekatnya rasa asin yang kita rasakan adalah pemberian dari Allah dalam kompleksitas indera yang kita miliki.

Lalu apakah kita harus meninggalkan usaha ? Hohoho… jika kita meninggalkan usaha, maka ini adalah sebuah tindakan yang mengabaikan sesuatu yang diciptakan Allah. Dia sudah menciptakan hukum sebab akibat, namun demikian sebaiknya kita tidak menggantungkan dengan hukum sebab akibat tersebut namun mempercayainya sebagai sebuah teori yang baik untuk dilakukan. Jadi bertentangan donk ? Katanya usaha tidak akan mempengaruhi hasil, tapi kita disuruh berusaha ? Ya mungkin bertentangan, namun ini tergantung bagaimana kita memandangnya, harus teliti hingga terlihat lebih banyak yang bisa kita lihat.

Jika kita pernah melihat lomba line folower, dimana ada banyak mobil mobilan yang diisi program oleh pemiliknya dengan harapan bahwa robot tersebut bisa berhasil memecahkan masalah dalam perlombaan, berjalan mengikuti garis dan akhirnya sampai di finish. Ketika robot tersebut sampai difinish, maka tidak ada orang yang menyalami robot line folower tadi dengan mengatakan bahwa dia hebat. Namun semua orang tahu bahwa yang hebat adalah yang membuat program dan mengisikannya pada IC robot tersebut. Tentu saja Mikrokontroler yang digunakan tidak bisa dibandingkan dengan otak kita. Tapi ada sedikit kesamaan disana, bahwa otak kita berfungsi sebagai control unitnya, jadi saat kita berusaha dengan memaksimalkan kerja otak kita, maka seperti dalam perlombaan line follower tadi, itu semua adalah karena Dia yang sudah mengisikan software dalam otak kita yang memiliki kemampuan luar biasa. Jadi pada hakikatnya bukanlah kita yang hebat, namun Dialah yang hebat.

Jadi usaha yang kita lakukan adalah sebetulnya sebuah naluri untuk menjalankan perintah. Kita tidak pernah tahu keadaan seperti apakah yang membentuk kita sepenuhnya. Mungkin kesulitan dimasa anak anak atau kesakitan luar biasa yang kita alami adalah sebuah faktor pembentuk diri kita menjadi begitu hebat di masa sekarang ini. Kita adalah sebuah kompleksitas yang amat sangat rumit. Kegagalan kita bertahun tahun mungkin saja adalah cara Dia membentuk kita sebagai orang yang hebat pada saat ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengucapkan terima kasih padanya dan sebisa mungkin berusaha dan memiliki keinginan kuat untuk mematuhi Nya. Kita harus meyakini bahwa Dia adalah yang terbaik, seapapun yang kita alami saat ini. Jangan sampai kita menyalahkan Nya atas semua kegagalan kita. Yakinlah itu adalah yang terbaik untuk kita. Yang sudah terjadi adalah takdir, namun yang belum terjadi kita harus berusaha sebaik yang bisa kita lakukan. Sehingga jika keberhasilan yang kita dapatkan kita tidak menjadi sombong dan mengabaikan peran Nya. Dan saat kegagalan yang kita capai, maka jangan menyalahkan Nya, karena hal itu pasti adalah sebuah hal yang baik untuk kita.

Jadi berusahalan sebaik baiknya dan putuskan klaim kita untuk keberhasilan yang kita raih, dan juga jangan bersedih jika tujuan kita belum tercapai. Kadang kadang kita terjebak dengan pikiran kita sendiri, kadang kadang kita terjebak dengan pikiran kita sendiri dengan mengharuskan seharusnya itu seperti ini, seharusnya itu harus begitu, seharusnya ini tidak begini, seharusnya itu tidak begitu. Lalu siapa yang mengharuskan suatu keadaan untuk kita ? Diri kita sendiri kan ? Nah, sudah mulai pusing kan ? saya juga yang menulis mulai pusing bagaimana harus menghentikan tulisan ini. Tulisan ini hanya sebagai musahabah untuk diri saya ketika keluar pikiran ini sehingga bisa saya baca suatu saat nanti jika saya lupa pelajaran ini. Buat yang sudah membaca abaikan saja dan jangan dipikirkan, karena kalian punya pelajaran sendiri sendiri hehehe….

Memutuskan Keberhasilan dan Kegagalan Dengan Usaha Kita